Top Kanan
Top Kiri

Waingapu.Com - Bupati Sumba Timur (Sumtim), NTT, Gidion Mbiliyora (GBY) menegaskan, investor bukan menjadi penyebab atau biang kerok kekeringan yang terjadi di

sejumlah wilayah di Sumtim. Hal itu ditegaskannya Rabu (28/12) siang kemarin, ketika ditemui Wartawan di ruang kerjanya, sehubungan dengan pers rilis yang dikeluarkan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTT beberapa hari lalu.

“Jangan dibolak-balik informasinya, realistis saja. Kerugian miliaran rupiah akibat kekeringan itu jangan dibilang karena ulah investor. Kita akui ada kekeringan namun itu karena faktor alam kemarau panjang dampak dari el nino,” tanggap Gidion.

Lebih jauh GBY memaparkan, pernyataan WALHI yang menyebut investasi yang dilakukan oleh PT. Muria Sumba Manis (MSM) di wilayah Wanga juga investor lainnya di Sumtim sejak tiga tahun silam sebagai penyebab kekeringan pada sejumlah lahan pertanian warga tidak bisa diterima.

“Tahun 2013 itu waktu kita alami puncak kekeringan. Dan itu bukan hanya di Wanga saja, bahkan hanya sebagian Lewa, Tabundung dan sebagian wilayah selatan yang curah hujannya cukup lumayan. Selebihnya di utara dan tengah dan timur curah hujannya rendah sekali, Jadi kekeringan itu bukan disebabkan oleh adanya perusahaan-perusahaan itu,” papar GBY.

Masyarakat Wanga dan masyarakat lainnya di lokasi-lokasi yang menjadi lokasi investasi, demikian imbuh GBY, dominan menyambut baik kehadiran investasi.

“Nyatanya masyarakat di Wanga juga di wilayah lainnya sangat mendukung keberadaan perusahaan yang berinvestasi di sana. Banyak masyarakat yang bekerja di sana dan merasakan manfaatnya. Yang melakukan protes itukan dari luar Wanga dan dari luar lokasi investasi lainnya yang tidak tahu kondisi realnya,” imbuh GBY.

GBY meminta untuk lebih realistis melihat kondisi saat ini dan tidak mengaburkan denngan provokasi dan informasi yang tidak realistis. “Kalau mengharapkan investasi pemerintah tentu tidak bisa. Karena investasi pemerintah lebih kepada investasi bidang atau barang-barang publik seperti pembangunan jalan dan jembatan juga irigasi. Warga bisa bekerja di situ tapi waktunya terbatas, paling lama enam bulan, setelah itu nganggur lagi. Tapi kalau ada investasi swasta dalam jangka waktu yang cukup lama tentu orang atau warga bisa bekerja dalam jangka lama dan berkesinambungan. Hal itu membuat pemerintah terbantu dalam mengatasi persoalan pengangguran. Tentunya kita juga tidak serta merta melupakan mata pencaharian pokok warga. Jadi pemerintah memang sangat memerlukan hadirnya investasi swasta,” pungkasnya.(ion)

Facebook Fans

Berita Lain