Top Kanan
Top Kiri

Waingapu.Com - “Saya percaya diri dan sangat yakin akan bisa melatih dan membimbing anak-anak menjadi petinju karena saya berkaca pada diri sendiri. Saya saja yang

kecil dan nampak tidak atletis ini bisa menjadi petinju yang sempat diperhitungkan di Sumba juga di tingkat regional. Apalagi kalau anak-anak ini yang memang posturnya sudah bagus dan memang alami, tinggal dipoles dan ditanamkan spirit pantang menyerah tentu bisa menjadi petinju yang baik dan berpotensi,” imbuhnya.

Nama Blazer juga dipakai karena sejak awal menjadi pelatih tinju, garasi mobil blazer milik Bupatilah yang dijadikan tempat awal ia melatih tinju pada Klemens Kahewa Marak yang kini telah memperkuat tim PON Jawa Tengah dan Marthen Dimu Dae yang sempat memperkuat tim Pra PON Jawa Barat, namun kemudian memilih pulang ke Sumba dan bekerja menjadi Security (Satpam) di Bank.

”Saya melihat mereka saat itu memang dari segi postur sudah bagus dan juga tekad untuk menjadi petinju juga tinggi jadi saya mau melatih mereka. Saya memang hanya bisa melatih tinju, jadi walaupun saya susah, tinju seakan sudah jadi darah daging,” tandasnya.

Adapun waktu latihannya tiga kali dalam seminggu yakni pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Namun waktunya dan durasi latihan bisa ditambah tergantung kondisi. “Kalau sebulan sebelum kejuaraan biasanya durasi latihan dan pertemuan bisa tiap hari minus hari minggu. Sehari latihan tiap sore dan minimal dua jam setengah latihan. Saya capek juga latih sendiri, saya sudah coba mencari dan membujuk beberapa rekan mantan petinju untuk melatih namun susah untuk diajak. Karena memang kalau sudah sepeti saya ini memang harus banyak mengorbankan waktu bahkan biaya sendiri,” jelasnya.

Dana untuk operasional sasana ini memang masih sangat minim, fasilitasnyapun demikian. Beberapa kali memang sempat mendapat dana bantuan dari Pemda melalui dinas PPO dan juga Bagian Bina Sosial Setda Sumtim. Namun sangatlah tidak memadai.

”Yang latihan disini mulai dari usia delapan tahun hingga 25 tahun. Sebagian besarnya masih pelajar. Fasilitasnya seperti yang dilihat seperti itu sudah, sarung tinju di bawah standar, sansak yang robek dan telah pecah, juga tidak punya ring. Ya begini sudah kalau barang yang didapat dari pemerintah yaa tidak bisa berumur panjang karena pengadaannya lewat proses tender,” tandasnya.

Untuk menjalankan sasana ini terlebih untuk memberangkatkan petinju ke kejuaraan ke luar daerah beberapa kali Ardi harus ektra berkorban. ”Adakalanya saat mengikuti kejuaraan dana bantuan dari Pemda lambat atau belum turun. Saya terpaksa beberapa kali gadai barang, bahkan motor saya sudah beberapa kali saya gadaikan untuk bisa membiayai petinju mulai dari pengadaan kaos dan seragam juga makan minum petinju dan pelatih selama mengikuti kejuaraan,” urainya.

Kendati demikian dalam segala keterbatasannya, sasana ini tetap bertahan. Ardi juga tetap bersyukur karena kondisi kini jauh lebih baik dari sebelumnya. ”Sekarang biar latih di halaman rumah saya ini tapi cukuplah dari pada dulu kami berlatih di pelataran ruko. Kami bisa lebih fokus dan nyaman berlatih,” tukasnya(bersambung)

Facebook Fans

Berita Lain