Top Kanan
Top Kiri

Waingapu.Com - Hari memang telah menjelang sore, namun sisa terik sang surya masih tetap terasa. Suasana yang lazim terjadi di musim kemarau itu juga mengakrapi Ardi

Dao Riwu, seorang pria yang sejatinya bernama asli Yonart Pieter Dicky Dao. Pria yang sehari-hari berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan 2C sebagai sopir mobil dinas pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT itu ditemui dan disambangi di kediamannya yang sederhana sehubungan dengan dengan semangat bajanya melatih putera dan puteri di seputaran Kota Waingapu untuk menjadi atlit tinju potensial.

Tidak ada profesi sambilan yang digeluti, demikian diungkapnya kala ditemui pekan silam. Pagi hingga siang hari, larut dengan kesibukannya sebagai PNS dan sore hingga menjelang petang melatih tinju di sasananya yang memiliki nama mentereng yakni ‘Blazer’ namun miliki fasilitas yang tak sementereng nama sasana yang terletak tepat di samping rumahnya.

“Saya mulai menjadi pelatih tinju sekitar tahun awal 2005. Saya memulainya saat saya masih menjadi sopir di rumah tangga Bupati Sumba Timur yang saat itu masih dijabat oleh almarhum bapak Umbu Mehang Kunda. Kebetulan saat itu ada beberapa peralatan tinju yang dibeli oleh ibu Silvy Anggraeni Mehang Kunda. Alat itu dibeli katanya untuk diberikan pada sesorang yang sempat bekerja di situ dan katanya bekas petinju dan bisa melatih tinju. Namun setelah alat-alat itu ada ternyata orang itu menghilang entah kemana. Saya prihatin pada alat yang ada seperti sansak, sejumlah sarung tinju dibiarkan begitu saja hingga terkesan mubazir, Terketuk hati saya untuk mengoptimalkan peralatan yang ada itu, apalagi saya pernah berlatih dan menjadi atlit tinju,” paparnya sembari menambahkan awalnya dirinya mengenal tinju dari sosok Pak Oka, yang kini keberadaannya tidak lagi diketahuinya.

Sasana Blazer pada awalnya memang memiliki kepengurusan yang cukup lengkap. Namun seiring berjalannya waktu, sasana ini hanya dijalankannya sendiri. “Nama Balzer itu diilhami oleh sebuah merek kendaraan yang kala itu memang langka di Sumba Timur. Kebetulan kendaraan itu dimiliki oleh Bupati dan sering dipakai untuk mengunjungi warga di pelosok yang akses jalannya sulit dan tidak beraspal. Mobil itu kokoh dan kuat sekalipun medan berbatu, berdebu dan berlumpur. Kokoh dan tegar dalam menghadapi keterbtasan dan kesulitanlah yang saya harapkan tertanam dalam Blazer sebagai nama sasana,” timpalnya.

Ardi berharap sasana Blazer yang sejak awal dibentuk dan walau tertatih tetap bertahan hingga kini bisa menjadi pijakan awal dan tempat untuk memoles bakat-bakat alami putera dan puteri Sumba menjadi atlit tinju amatir dan professional yang patut diperhitungkan dan bisa meraup prestasi.

”Kalau berprestasi tentu akan mengangkat kepercayaan diri dan bisa juga mengangkat harkat hidup ekonomi pribadi dan keluarga,” tandasnya(bersambung)

Facebook Fans

Berita Lain