FrontPageTop

Waingapu.Com - Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November, bisa dijadikan momentum refleksi. Refleksi sejauh mana penghargaan atas jasa para

Pahlawan, juga sejauh mana penghargaan atas peninggalan dan bukti-bukti sejarah perjuangan melepaskan diri dari penjajahan silam. Memperlakukan bukti sejarah secara tepat dan arif, adalah salah satu cara menghargai jasa para Pahlawan. Namun di Sumba Timur (Sumtim), NTT, harapan itu masih minim dari realisasi.

Bunker peninggalan Jepang, di kawasan RT17/RW04, kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, misalnya. Jika tak menjadi saksi bisu, tentu akan bisa berbicara banyak terkait perlakuan yang diterimanya. Betapa tidak, saat di sambangi wartawan, Rabu (09/11) siang kemarin, tampak telantar tak terawat. Bau amis bangkai menyeruak dari balik bunker yang miliki terowongan ke beberapa bunker lainnya itu.

Kondisi yang memperihatinkan juga nampak pada bunker lainnya yang berada tepat dibelakang rumah seorang warga. Memang nampak lebih bagus dari bunker sebelumnya. Namun justru ditata untuk menjadi kandang ayam. Beberapa kerangkeng bambu berisi ayam-ayam bangkok terletak di dalam bunker yang kontruksinya kokoh itu.

Di Padadita, dan juga disejumlah wilayah lainnya di seputaran Kecamatan Kambera, memang banyak ditemui bunker-bunker serupa. Bunker yang disebut menjadi lokasi perlindungan dan pengintaian para serdadu Jepang dalam Perang dunia kedua silam. Bunker-bunker berada dilokasi strategis dimana bisa melihat luas ke hamparan pantai guna memantau kedatangan dan pergerakan musuh.

“Ya begini sudah kondisinya. Memang kami harapa ada perhatian pemerintah untuk rawat dan jaga ini tempat. Tapi sampai sekarang memang tidak pernah ada. Padahal ini buah tangan kita punya nenek moyang yang dulu kerja jadi romusha bangun ini barang,” jelas Lukas Huri Gah, warga Pada Dita yang juga menjabat Ketua RT setempat.

Lebih jauh Lukas menjelaskan, warga sekitar tidak bisa berbuat banyak dengan peninggalan dan saksi-saksi sejarah penjajahan juga perjuangan para Pahlawan itu. Selain karena keterbatasan pengetahuan dan ekonomi juga karena kurangnya perhatian dan kepedulian pemerintah melalui instansi terkait.

“Kalau pemerintah perhatikan ini tentu kami juga akan sama-sama jaga. Ini beberapa kali kalau ada turis jepang datang ke Sumba Timur, mereka keliling-keliling di sini. Mereka mau napak tilas mungkin. Tapi kita yang orang Indonesia, anggap ini biasa-biasa saja,” lirih Lukas yang mengaku mengetahui bunker-bunker ini sebagai penginggalan Jepang dari beberapa saksi mata yang kini telah meninggal.

“Dulu ada Bapa tua di sini, dia meninggal di usia lebih dari 130 tahun. Dia itu yang cerita, dia juga pernah kerja jadi romusha,” pungkas Lukas.

Hari Pahlawan kali ini bisa jadi refleksi para anak bangsa, bahwasanya Pahlawan bukan saja mereka yang telah diberi gelar oleh negara dan dimakamkan di makam pahlawan semata. Namun juga yang keringat dan darahnya bercucuran bahkan korbankan nyawanya untuk membangun bunker-bunker ini. Merawat buah tangan mereka, bentuk penghargaan bagi mereka yang gugur jadi Kusuma Bangsa, walau jazad mereka tidak diketahui keberadaanya, atau hanya terbaring kaku dibalik Pusara yang tak bernama.(ion)

Facebook Fans

Berita Lain

Go to top