Top Kanan
Top Kiri

Waingapu.Com - Pulau Sumba kaya akan tradisi dan ritual adat dan budayanya. Ritual yang mengandung aneka pesan positif selalu tersirat di dalamnya. Di Kecamatan

Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, ada ritual Wulla Wangu yang hingga kini terus dilestarikan keberadaanya. Ritual yang lazim dilakukan setiap menerima tamu, yang tak bisa lepas dari parang terhunus dan pekikan bernada tinggi, namun punya pesan sportifitas dibaliknya.

Seperti disaksikan dalam ceremonial pembukaan Hari Pangan Sedunia (HPS) se-Sumba, lingkup Keuskupan Weetebulla, yang dilaksanakan di Stasi Ello, Desa Pada Eweta, Rabu (19/10) pekan lalu, dua tua adat dari kelompok yang berbeda saling sahut dengan nada berintonasi tinggi, sesekali kaki dihentakan ke bumi dengan tangan keras terkepal.

Sekitar lima menit berselang, kedua tua adat akan sama-sama menghunuskan parang dari balik warangka atau sarungnya. Bukan untuk saling menebas, namun untuk bersama meneriakan kata-kata bermakna persahabatan, yang direkatkan dengan pengalungan kain kepada tamu yang datang, yang berada di belakang tetua adat satunya. Sukacita bersama kian kental seiring dengan pekikan-pekikan menyatakan tamu yang datang adalah kawan. Dibarengi dengan tabuhan gong dan tambur yang rancak bergema seiring gema mengembangkan pertanian ramah lingkungan atau pertanian ekologis bersinergi dengan kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

Tak hanya sampai disini, kaum perempuan sontak menyajikan tarian woleka, dengan busana dan liukan khas. Penari-penari dengan lentik jemari dan anggukan kepala berikatkan kain berbentuk bulan dan pial ayam, tersenyum gembira, layaknya sukacita ayam dan burung menyambut mentari pagi. Di lain sisi, tetua adat tetap meghunuskan parangnya.

Ritual Wulla Wangu dan tarian Woleka, memang selalu digandengkan bersama, sebagai ritual penyambutan tamu.

“Itu tadi saya tanya siapa yang datang, kawan atau lawan, ada maksud baik atau tidak. Ketika saya tahu itu kawan, maka kami sambut dengan sukacita,” jelas Agustinus B. Kaka, salah seorang tetua adat kala memberikan penjelasan tentang makna dibalik saling sahut dalam ritual Wulla Wangu.

“Kalau dulu jaman feodal masih sering ada perang kampung, hingga baku ambil kepala. Jadi harus ditanya di awal, dari mana? Siapa yang datang? Kawan atau lawan? Jadi ketika kita tahu iitu kawan dan bawa pesan damai, ya kita sambut dengan sukacita, ronggeng dengan parang,” jelas Paulus Bili Lele, tokoh adat lainnya.

Dalam percakan lanjutan dengan kedua tokoh adat dijabarkan, ritual Wula Wangu dan tarian Woleka, punya makna sportifitas yang tersirat di dalamnya. Dimana kawan atau lawan harus ‘gentle’ memberitahukan maksud kedatangan dan kehadirannya. Tidak menjadi musuh dalam selimut atau menggunting dari balik selimut.

Ritual ini kini dalam sejumlah liturgi atau ibadah-ibadah khusus umat Katholik di Kabupaten Sumba Barat Daya, sering ditampilkan sebagai bentuk inkulturasi budaya dalam ibadah sesuai tradisi dan Iman Katholik dalam memuliakan Sang Khalik.(ion)

Facebook Fans

Berita Lain